Inggris
Sebagai Negara
super power
Power sangat berperan penting dalam sebuah Negara. Karena
dengan power suatu Negara dapat menjalankan dan mewujudkan tujuan-tujuannya,
maka negara harus memiliki kemampuan tertentu dan juga power. Power
didefinisikan sebagai pengaruh atau potensi yang aktual atau pemaksaan
seorang aktor negara atau lainnya agar menyatakan relatif(mendukung) terhadap
suatu negara atau pun suatu aktor non-negara karena kemampuan politik,
geografis, ekonomi dan keuangan, teknologi, militer, sosial, budaya, yang
dimiliki negara tersebut.
Inggris adalah
sebuah negara yang merupakan bagian dari Britania Raya. Negara ini berbatasan
dengan Skotlandia di sebelah utara dan Wales di sebelah barat, Laut Irlandia di
barat laut, Laut Keltik di barat daya, serta Laut Utara di sebelah timur dan
Selat Inggris, yang memisahkannya dari benua Eropa, di sebelah selatan.
Sebagian besar wilayah Inggris terdiri dari bagian tengah dan selatan Pulau
Britania Raya di Atlantik Utara. Inggris juga mencakup lebih dari 100 pulau-pulau
kecil seperti Isles of Scilly dan Isle of Wight. Wilayah yang saat ini bernama
Inggris pertama kali dihuni oleh manusia modern selama periode Paleolitikum,
namun nama England ini berasal dari kata Angles, yang merupakan salah satu suku
Jermanik yang menetap di sana pada abad ke-5 dan ke-6. Inggris menjadi negara
yang bersatu pada tahun 927 M, dan sejak Zaman Penjelajahan yang dimulai pada
abad ke-15, Inggris telah memberikan pengaruh budaya dan hukum yang signifikan
ke berbagai belahan dunia. Bahasa Inggris, Gereja Anglikan, dan hukum
Inggris-yang menjadi dasar sistem hukum umum bagi negara lain di seluruh
dunia-berasal dan dikembangkan di Inggris, dan sistem parlementer negara ini
juga telah banyak diadopsi oleh negara-negara lain.Revolusi Industri yang
dimulai pada abad ke-18 menjadikan Inggris sebagai negara industri pertama di
dunia. Royal Society Inggris juga berperan penting dalam meletakkan dasar-dasar
sains eksperimental modern terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebagian
besar wilayah inggris terdiri dari perbukitan dan dataran rendah, terutama di
bagian tengah dan selatan. Dataran tinggi terdapat di bagian utara (misalnya,
pegunungan Danau District, Pennines, serta Yorkshire Dales) dan di barat daya
(misalnya Dartmoor dan Cotswolds). Ibu kota Inggris dahulunya adalah
Winchester, kemudian digantikan oleh London pada tahun 1066. Saat ini London
merupakan daerah metropolitan terbesar di Britania Raya dan zona perkotaan
terbesar di Uni Eropa berdasarkan luas wilayah. Penduduk Inggris berjumlah
sekitar 53 juta jiwa, atau sekitar 84% dari total populasi Britania Raya,
sebagian besarnya terkonsentrasi di London, Inggris Tenggara, dan
kawasan-kawasan konurbasi di Midlands, Barat Laut, Timur Laut dan Yorkshire,
masing-masing wilayah ini dikembangkan sebagai daerah industri utama selama
abad ke-19.
Sedangkan kawasan padang rumput terdapat di luar wilayah
kota-kota besar. Kerajaan Inggris (setelah tahun 1284 juga termasuk Wales)
adalah sebuah negara berdaulat sampai tanggal 1 Mei 1707. Kemudian
Undang-Undang Kesatuan yang menyatakan bahwa Kerajaan Inggris dan Kerajaan
Skotlandia disatukan secara politik untuk membentuk Kerajaan Britania Raya
disahkan pada tahun 1707. Pada tahun 1801, Britania Raya bersatu dengan
Kerajaan Irlandia dengan disahkannya Undang-Undang Kesatuan 1800 dan kemudian
namanya berganti menjadi Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia. Pada
tahun 1922, Negara Bebas Irlandia berdiri sebagai suatu domini yang terpisah,
namun enam county di Irlandia Utara tetap memilih untuk menjadi bagian dari
Britania Raya, yang kemudian namanya diubah lagi menjadi Kerajaan Bersatu Britania
Raya dan Irlandia Utara, yaitu konteks negara Britania Raya yang dikenal hingga
sekarang ini.
Inggris bisa dikatakan sebagai Negara super
power karena merupakan salah satu perekonomian terbesar di dunia, rata rata PDB
perkapita sebesar 22.907. Inggris menerapkan sistem ekonomi pasar campuran yang mengadopsi sebagian besar prinsip-prinsip pasar bebas, namun tetap
mempertahankan infrastruktur kesejahteraan social. Inggris pada dasarnya adalah
sebuah negara industri. Namun, sejak tahun 1970-an terjadi penurunan dalam
sektor-sektor industri berat dan manufaktur, dan terjadi peningkatan dalam
sektor industri jasa. Sektor pariwisata juga menjadi power untuk Negara inggris,
karena ini menarik jutaan wisatawan mancanegara ke Inggris setiap tahunnya sektor
ini menarik banyak sekali jutaan wisatawan mancanegara ke Inggris setiap
tahunnyadan di dalam ekspornya impornya inggris selalu mendominasi obat-obatan, mobil
(meskipun sebagian besar perusahaan otomotif Inggris seperti Rolls-Royce,
Lotus, Jaguar dan Bentley saat ini dimiliki oleh asing), minyak mentah yang
dihasilkan dari penambangan minyak di Laut Utara, mesin pesawat, serta minuman
beralkohol. Di bidang pertanian pun sudah sangat intensif dan termekanisasi Sektor,
ini memproduksi sekitar 60% bagi
kebutuhan makanan dan menyerap sekitar 2% angkatan kerja di Inggris. Dua
pertiga produksi dikhususkan untuk sektor peternakan, selebihnya untuk
pertanian. Selain itu di inggris banyak sekali tokoh terkemuka dari inggris di
bidang sains dan matematika antara lain Sir Isaac Newton, Michael Faraday,
Robert Hooke, Robert Boyle, Joseph Priestley, J. J. Thomson, Charles Babbage,
Charles Darwin, Stephen Hawking, Christopher Wren, Alan Turing, Francis Crick,
Joseph Lister, Tim Berners-Lee, Paul Dirac, Andrew Wiles dan Richard Dawkins. Penemuan
dan penciptaan yang berasal dari Inggris di antaranya adalah mesin jet, mesin
pemintal pertama, komputer pertama dan komputer modern pertama, World Wide Web
dan HTML, transfusi darah manusia yang berhasil pertama, mesin penghisap
debu,[149] mesin pemotong rumput, sabuk pengaman, kapal bantalan udara, motor
listrik, mesin uap, dan teori-teori seperti teori evolusi Darwin dan teori
atom. Newton mengembangkan teori gravitasi universal, mekanika klasik, dan infinitesimal
kalkulus, serta Robert Hooke dengan hukum elastisitasnya. Penemuan lainnya
termasuk kereta api plat besi, termosipon, aspal, karet gelang, perangkap
tikus, bola lampu, lokomotif uap, garis jalan, garukan traktor, dan lain
sebagainya.
Diplomasi negara inggris
Pada hari Selasa, 6 Maret 2012, terjadi peristiwa yang cukup
bersejarah bagi hubungan bilateral antara Republik Indonesia dan Kerajaan
Inggris. Pada hari itu Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris Raya, TM
Hamzah Thayeb,menyerahkan surat kepercayaan (letter of credential) kepada Ratu
Elizabeth II.Yang menjadikan peristiwa ini unik dari penyerahan surat
kepercayaan sebelumnya dikarenakan lebih dari 10 tahun yang lalu ayahanda Dubes
Hamzah Thayeb, yakni TM Hadi M Thayeb,menyerahkan surat kepercayaan sebagai
dubes juga kepada Ratu Elizabeth II. Peristiwa ini menjadi bersejarah karena
pertama kalinya bapak dan anak dalam satu keluarga mewakili Indonesia sebagai
Duta Besar di Kerajaan Inggris Raya.Sebelumnya, pada 23 Februari 2012, Presiden
Susilo Bambang Yudhyono dalam pengarahannya dalam rapat kerja Kementerian Luar
Negeri dan perwakilan RI di luar negeri menekankan pentingnya diplomasi di
bidang ekonomi. Diplomasi itu dalam konteks untuk mendatangkan investasi,
meningkatkan ekspor, dan memacu pendapatan devisa melalui pariwisata terkait
kebijakan ekonomi pemerintah untuk terus-menerus mendorong pertumbuhan ekonomi
dan tentu saja diiringi penciptaan lapangan kerja. Hamzah Thayeb sendiri sudah
menyampaikan hal tersebut kepada Ratu Elizabeth II mengenai perlunya meningkatkan
hubungan kedua negara pada tahap yang lebih konkret, yakni dalam bidang
ekonomi. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor Indonesia ke Inggris
terus meningkat. Pada 2007 ekspor Indonesia ke Inggris hanya USD1,45 miliar
naik menjadi USD1,72 miliar tahun 2001. Sementara pada 2007 impor Indonesia
hanya USD653,9 juta, naik menjadi USD937,9 pada 2011. Hal yang menarik apabila
kita melihat sektor pariwisata. Dapat dilihat bahwa jumlah wisatawan Inggris
yang berkunjung ke Indonesia ternyata merupakan tertinggi untuk wisatawan asal
Eropa.
Salah satu yang menjadi tantangan utama dalam upaya Pemerintah
Indonesia untuk mewujudkan diplomasi ekonomi di Inggris adalah keadaan ekonomi
di negeri Ratu Elizabeth ini sedang terpengaruh oleh krisis ekonomi regional
Eropa. Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri David Cameron sedang
memangkas pengeluaran pemerintah secara besar-besaran dan tentu saja salah satu
alokasi yang diprioritaskan untuk dikurangi adalah bantuan internasional. Salah
satu yang menjadi berita besar adalah pengurangan alokasi dana dari Kementerian
Luar negeri Inggris untuk program radio BBCWorld Servicedi tahun 2011 sebesar
16%, termasuk di dalamnya BBC Indonesia. Artinya, menjajaki kerja sama dengan
pihak nonpemerintah seperti perusahaan, asosiasi bisnis menjadi lebih penting
lagi bagi agenda diplomasi Indonesia di Inggris. London, sebagai salah satu
pusat industri keuangan terkemuka di dunia, tentu saja mencari alternatif untuk
menanamkan portofolio investasinya di negara berkembang yang tetap mengalami
pertumbuhan ekonomi di antaranya negara-negara di kawasan Asia. Dengan demikian
Indonesia diharapkan dapat bersaing dengan negara-negara berkembang yang sudah
lebih dikenal seperti China dan India untuk mengundang investasi baik dalam
bentuk portofolio (saham, obligasi,reksa dana) maupun dalam bentuk penanaman
modal langsung, misalnya dalam bentuk pembangunan pabrik yang padat karya.
Selain itu, di bidang pendidikan dan kebudayaan juga banyak potensi yang bisa
digali untuk kepentingan Indonesia di Inggris.
Pada Simposium Asia Tenggara di University of Oxford, 10 -11
Maret 2012, oleh Project Southeast Asia ternyata Indonesia tetap menjadi objek
penelitian yang menarik dengan adanya sembilan dari hasil penelitian terkait
Indonesia serta tiga di antaranya dilakukan oleh mahasiswa doktoral asal
Indonesia. Skema beasiswa di luar dari yang disediakan oleh baik Pemerintah
Inggris (Chevening) atau Indonesia (Dikti, kementerian lainnya) diharapkan
dapat disediakan oleh perusahaan swasta atau yayasan pendidikan berbasis di
Inggris atau Indonesia. Untuk bidang seni dan budaya, komunitas Indonesia serta
warga Inggris yang mempunyai minat budaya Indonesia dapat pula diberdayakan.
Sebagai contoh School of Oriental & Africa Studies (SOAS) di London sering
mengadakan pergelaran kesenian, begitu juga adanya kelompok warga Inggris dan
Indonesia yang tergabung dalam Oxford Gamelan Society yang bisa diajak kerja
sama oleh KBRI London sebagai perwujudan kontak langsung dengan warga Inggris
untuk bersama-sama mempromosikan Indonesia. Hubungan kedua negara sudah
berjalan dengan sangat baik dan telah berlangsung lama.
Inggris akan membuka lagi kerjasama dengan Iran.
Inggris
sedang melakukan pembicaraan untuk melanjutkan lagi hubungan diplomatik antara
kedua negara. Demikian diumumkan Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague
hari Selasa (09/10). Sebelumnya, Hague dan Menlu Iran Javad Shariv sudah
melakukan pembicaraan di New York. Bulan-bulan mendatang "bisa menjadi
sangat penting" bagi hubungan diplomatik kedua negara, kata Hague. Di
depan parlemen Inggris ia menerangkan, kedua negara akan segera menetapkan para
diplomat, tugas-tugas mereka serta struktur hubungan yang baru. Tidak lama
lagi, Kedutaan Inggris di Teheran dan Kedutaan Iran di London bisa dibuka
kembali. Pemerintah Inggris sejak 2011 menutup Kedutaan Besar di Teheran. Akhir
November 2011, mahasiswa Iran sempat menyerbu Gedung Kedutaan Inggris sebagai
protes karena Inggris memberlakukan sanksi terhadap Iran. Inggris kemudian
kengevakuasi warganya dari Iran dan mengusir semua diplomat Iran dari Inggris.
Pendekatan Baru
Hague selanjutnya
mengatakan, Iran harus menunjukkan "perubahan besar" dalam sengketa
nuklir, jika ingin agar sanksi negara-negara barat diperlonggar. Masa depan
hubungan Inggris-Iran akan tergantung dari langkah-langkah konkrit yang
dilakukan kedua pihak dalam waktu dekat. Menurut Menteri Luar Negeri Inggris
itu, di Iran sekarang sedang terjadi persaingan antara kubu-kubu yang berkuasa.
Dengan kemenangan Hassan Rouhani dalam pemilu presiden, sudah mulai terasa
angin perubahan. Kini ada harapan baru untuk menyelesaikan sengketa program
nuklir. Presiden Iran Hassan Rouhani secara tegas menolak politik provokatif
yang dijalankan pendahulunya, Ahmadinejad. "Kita tidak bisa menghadapi
dunia hanya dengan retorika dan slogan, melainkan dengan politik yang masuk
akal", kata Rouhani dalam sebuah kongres ilmu pengetahuan di Teheran. Mengakahiri
kunjungannya di New York akhir September, Rouhani melakukan percakapan telepon
dengan Presiden AS Barack Obama. Inilah pembicaraan pertama sejak lebih 34
tahun antara pimpinan AS dan Iran.
Inggris pernah menjajah
yaitu Negara brunei darussalam dengan factor ingin
mengambil alih semua lahan yang ada di brunei darusallam. Awalnya Kekalahan
Brunei dalam melawan Spanyol membawa petaka bagi kondisi dalam negeri Brunei.
Perpecahan antar daerah sudah tidak dapat dihindarkan lagi, banyak daerah yang
menggunakan momentum tersebut untuk melakukan pemberontakan dan menuntut
kemerdekaan dari Brunei. Namun karena Kesultanan memiliki sikap yang sangat
adil terhadap rakyatnya, pemberontakan pun dapat diredam dengan cukup mudah. Namun
pertahanan Brunei akhirnya jebol juga. Tiga abad kemudian, perpecahan dan
pemberontakan kembali terjadi di tanah Brunei. Pemberontakan yang cukup
terkenal terjadi pada masa Sultan Omar Ali Saifuddin II. Tepatnya pada tahun
1839 terjadi pemberontakan di Serawak, pemberontakan ini cukup merepotkan
Kesultanan namun atas bantuan James Brooke, pemberontakan akhirnya berhasil
dipadamkan.
Atas jasanya membantu
memadamkan pemberontakan, Brooke diangkat sebagai gubernur Serawak dan mendapat
gelar “Rajah Putih”. Namun ternyata Brooke memiliki maksud tersembunyi, sejak
menjabat sebagai gubenur, wilayahnya semakin diperluas secara bertahap. Bahkan
ia pernah meminta pemerintah Inggris untuk meneliti seberapa besar potensi
Brooke untuk dapat menguasai Brunei, akan tetapi hasilnya mengecewakan.
Rekomendasi dari pemerintah Inggris menunjukkan bahwa meskipun Brunei memiliki
pemerintah yang sangat buruk, namun rakyatnya memiliki loyalitas dan identitas
nasional yang sangat tinggi sehingga peluang Brooke untuk menguasai Brunei
kecil. Maksud tersembunyi ini akhirnya tercium juga oleh Sultan. Pada tahun
1843 terjadi konflik terbuka antara Brooke dan Sultan yang berakhir dengan
kekalahan di pihak Brunei. Sultan akhirnya terpaksa mengakui kemerdekaan
Serawak. Lepasnya Serawak membuat gerakan Inggris menjadi semakin mudah karena
memiliki kawasan yang lebih strategis.
Pada tahun 1846,
Brunei Town diserang oleh pasukan Inggris. Ibukota Brunei tersebut ditaklukan
dengan mudah oleh pasukan Inggris. Sultan Saifuddin II pun ditangkap dan
dipaksa untuk menandatangani perjanjian untuk mengakhiri pendudukan Inggris
atas kota Brunei. Pada tahun yang sama, Sultan Saifuddin II kembali dipaksa
untuk menandatangani Perjanjian Labuan yang berisi penyerahan Labuan kepada
Inggris. Pada tahun 1847, Brunei menandatangani Perjanjian Perdagangan dan
Persahabatan dengan Inggris. Pada tahun 1850, Brunei menandatanganu perjanjian
serupa dengan Amerika Serikat. Wilayah kekuasaan Brunei pun semakin mengecil,
sedikit demi sedikit Sultan dipaksa untuk menyerahkan wilayahnya kepada
Serawak. Pada tahun 1877, Inggris juga memaksa Brunei untuk menandatangani
perjanjian penyewaan lahan yang ada disebelah timur (kini bernama Sabah) kepada
Perusahaan Borneo Utara milih Britania Raya. Wilayah Brunei yang awalnya begitu
luas pun berubah menjadi kecil mungil akibat dikikis oleh Inggris.
Kekuasaan Brunei
yang sangat terbatas membuatnya menjadi sangat lemah, akibatnya Brunei menjadi
negara yang lemah dan tak berdaya. Kondisi tersebut membuat Sultan Hasyim
Alilul Alam Aqamaddin menandatangani perjanjian degan Inggris pada tahun 1888
yang meletakkan Brunei di bawah perlindungan Inggris. Ketidakberdayaan Brunei
semakin terlihat saat Sultan mengirimkan permintaan kepada pemerintah Inggris
agar mengirimkan warga Inggris ke Brunei untuk membantu menjalankan
pemerintahan. Permintaan tersebut baru dipenuhi pada tahun 1906, warga Inggris
mulai dikirimkan untuk membangun Brunei. Sebuah kantor bea cukai dan pertanahan
mulai dibangun, kepolisian Brunei juga mulai dibangun. Pada tahun 1911, Inggris
juga mendirikan sekolah melayu. Kemakmuran Brunei mulai kembali terlihat sejak
ditemukannya minyak di Seria pada tahun 1929. Pembangunan di Brunei sempat
terhenti saat terjadi Perang Dunia Kedua. Brunei diduduki oleh Jepang pada
tahun 1941-1945. Inggris tidak mampu mempertahankan Brunei dari serangan Jepang
meskipun sebenarnya Inggris masih memiliki perjanjian protektorat dengan
Brunei.
Sumber:



Tidak ada komentar:
Posting Komentar